Selamat datang di Suara GMBI Semarang

Sejarah sebagai Pijakan Menuju Masa Depan

Sabtu, 18 April 20150 komentar





Sejarah sebagai Pijakan Menuju Masa Depan

Memasuki diskusi sesi kedua, KiaiKanjeng mengantarkan Jama’ah untuk memasuki ruangan yang berbeda dari diskusi sesi pertama dengan membawakan nomor medley Muhammadun Basyarun — Sinau Mati dan sebuah nomor dangdut berjudul Indonesia.
Hariyanto memoderatori diskusi sesi kedua ini dengan memberi sebuah landasan bahwa tema “Rahmatan lil ‘alaminnya manna?” ini merupakan sebuah tema yang diangkat secara khusus di forum-forum Maiyahan Nusantara bulan ini, bukan hanya di Mocopat Syafaat saja melainkan di Padhang Bulan, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, Gambang Syafaat dan Juguran Syafaat tentunya. Tema ini disarankan oleh Rumah Maiyah Kadipiro dengan tujuan untuk kembali menggali dan memahami beberapa istilah-istilah Islam seperti Jihad dan Syahid yang saat ini sudah terlalu melenceng dari makna yang sebenarnya. Disamping itu, beberapa istilah lain juga kita dapati sudah tidak seperti makna aslinya yang digunakan oleh masyarakat luas akhir-akhir ini.
Hariyanto kemudian memperkenalkan beberapa anak-anak muda yang menjadi penggiat Mocopat Syafaat yang tergabung dalam Rembug Mocopat Syafaat, pengurus Buletin Mocopat Syafaat dan penggiat Diskusi Martabat. Masing-masing sel dari Rembug Mocopat Syafaat ini sebenarnya sudah aktif dan menggeliat sejak beberapa tahun yang lalu, namun kemudian setelah akhir tahun 2014 yang lalu para penggiat Maiyah Nusantara bertemu dan berkumpul di Batu Raden, Purwokerto untuk merapatkan shof, maka simpul-simpul ini juga menyesuaikan diri untuk kembali merapatkan barisan dan mengatur ulang susunan shofnya sehingga bukan hanya menjadi hiasan Maiyah, melainkan menjadi elemen-elemen yang juga penting dari Maiyah Nusantara itu sendiri. Selain Buletin Mocopat Syafaat dan Diskusi Martabat, terdapat sel-sel lain yang berada didalam wadah Rembug Mocopat Syafaat saat ini seperti Nahdhlatul Muhammadiyin dan Perpustakaan EAN di Kadipiro.
Adji yang merupakan salah satu penggiat Mocopat Syafaat menggambarkan bahwa Maiyah saat ini fokus memperbaiki barisan jama’ahnya dengan dimulai dari penggiatnya. Ibaratnya dalam sholat, Adji menggambarkan bahwa Jama’ah Maiyah saat ini sudah melewati proses wudhlu, dan Imam sholatnya juga sudah siap memimpin sholat. Namun, shof-shof jama’ahnya sendiri belum rapat dan rapi, sehingga semangat untuk mengatur kembali barisan Jama’ah menjadi landasan utama fokus kegiatan para penggiat Maiyah Nusantara tahun 2015 ini.
Penya, salah satu pengurus Buletin Mocopat Syafaat mengajak Jama’ah yang memiliki ketertarikan dalam dunia menulis untuk bergabung dalam Komunitas Menulis di Buletin Mocopat Syafaat yang berkumpul setiap dua minggu sekali di Rumah Maiyah Kadipiro.
Dhani, perwakilan dari Diskusi Martabat menceritakan sejarah munculnya forum diskusi ini yang pada awalnya bermula dari sebuah forum diskusi kecil; FGD (Focus Group Discussion). Setelah berjalan kurang lebih 2,5 tahun, forum yang digawangi oleh Sabrang ini kemudian memutuskan untuk melebarkan sayap menjadi Forum Diskusi Martabat. Yang menjadi tujuan utama Diskusi Martabat ini adalah menjadikan setiap individu yang ikut berdiskusi untuk mampu memiliki kemandirian dalam menyerap informasi dan berdaulat dalam memahami informasi yang didapat.
Sejak akhir tahun 2014, Maiyah sudah mencanangkan bahwa apa yang akan dilakukan setelah 2014 adalah langkah-langkah yang memadat serta pembenahan-pembenahan yang sifatnya tidak hanya kelaur, tetapi juga kedalam. Pergerakan lingkar-lingkar Maiyah yang kita lihat akhir-akhir ini merupakan salah satu bentuk dari langkah-langkah pemadatan tersebut. Saat ini kita tidak hanya mengenal bahwa Maiyah itu adalah Padhang Bulan, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Gambang Syafaat, Bangbang Wetan dan Peparandang Ate saja. Tetapi muncul lingkaran-lingkaran yang baru yang berada di dalam lingkar Maiyah Nusantara itu sendiri yang memiliki nuansa, gelombang dan frekuensi yang baru, seperti; Maneges Qudroh, Juguran Syafaat, Cahyo Sumebar, Sekala Selampung, Maiyah Pemalang, Lembah Manah, ReLegi dan masih banyak lagi forum yang skalanya mungkin lebih kecil.
Cak Nun menambahkan bahwa Maiyah saat ini sedang menyiapkan kader-kader yang akan menjalani sebuah zaman yang benar-benar baru. Dan yang dilakukan oleh Jama’ah maiyah saat ini tidak hanya bersuci dalam perspektif kasat mata, melainkan juga bersuci dalam fikiran, hati dan perbuatan. Begitu juga sholat yang didirikan oleh jama’ah Maiyah, bukan hanya sholat secara jasmani, namun juga sholat ruhani, sholat dalam fikiran dan juga hati. Cak Nun mengingatkan, apa yang akan kita gapai di masa yang akan datang sangat bergantung pada kesiapan kita saat ini.
Dalam Al Qur’an disebutkan; waltandhzur nafsun maa qoddamat lighoddi, bahwa setiap dari kita diperintahkan untuk melihat apa yang sudah diperbuat di masa lalu untuk bekal di kemudian hari di masa yang akan datang. Cak Nun kemudian bercerita sekilas tentang beberapa peristiwa-peristiwa yang luput dari penulisan sejarah Indonesia.
Begitu juga gerakan Sholawatan yang dulu diawali oleh Cak Nun bersama Cak Yus dan Cak Dil. Tepat 2 hari setelah Soeharto lengser, Cak Nun bersama Cak Yus dan Cak Dil berkeliling di kampung-kampung di Jakarta untuk merintis gerakan Sholawatan bersama “Mini KiaiKanjeng”, karena hanya membawa 5 personel KiaiKanjeng saat itu; Pak Joko Kamto, Pak Nevi Budianto, Pak Bobiet, Pak Bayu dan Pak Yoyok. Cak Yus bercerita bahkan di mobil yang digunakan untuk berkeliling Sholawatan itu, di bagasi belakang selalu membawa karpet dan kardus yang berisi air mineral, dan hampir setiap hari Jum’at setiap minggunya, bersama personel “Mini KiaiKanjeng” saat itu membagi-bagikan nasi bungkus kepada masyarakat di Jakarta. Beberapa kali dicegat oleh TNI dan ditanya hendak kemana, dengan tenang Cak Yus menjawab “Kami mau Sholawatan”. Gerakan Sholawatan di kampung-kampung ini menurut Cak Nun adalah kelanjutan dari proses local wisdom yang dinasionalisasikan; Tombo Ati. Gerakan Sholawatan ini kemudian dikenal dengan HAMMAS; Himpunan Masyarakat Sholawat.
Lebih jauh lagi, pada awal 80-an ketika Jilbab masih sangat sedikit yang memakainya, Cak Nun menyusun sebuah naskah teater “Lautan Jilbab”, yang sempat dipentaskan bersama Jama’ah Shalahudin di Yogyakarta. Tidak hanya itu, Cak Nun bersama Cak Yus berkeliling ke daerah-daerah di Indonesia untuk menemani perempuan-perempuan yang menuntut hak-nya dalam urusan pemakaian jilbab, bukan hanya untuk bertemu dengan perusahaan atau kantor departemen yang melarang pemakaian jilbab saja, Cak Nun bahkan menemani sampai ke pengadilan. Kita bisa bayangkan saat itu perempuan-perempuan muslim di Indonesia harus berjuang hingga pengadilan hanya untuk diperbolehkan menggunakan jilbab. Dan saat ini kita benar-benar menyaksikan “Lautan Jilbab” di Indonesia, hampir 70% perempuan muslim di Indonesia saat ini mendapatkan kebebasannya untuk mengenakan Jilbab.
“Hampir semua kata yang anda dengar saat ini sudah najis, semua epistimologinya dirusak. bahkan hukum yang padat bisa diaplikasikan secara terbalik oleh hakim yang berbeda” [Cak Nun]
Rumah Maiyah Kadipiro kemudian melalui Helmi Mustofa menginisiasi penulisan peristiwa-peristiwa yang sudah dilalui oleh Cak Nun dan Maiyah hingga hari ini. Semangat yang diusung bukan dalam rangka menyombongkan diri, melainkan agar apa yang sudah dilakukan oleh Cak Nun bersama Maiyah dan juga Kiai Kanjeng dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi yang akan datang. Sehingga generasi Maiyah yang akan datang tidak akan mengalami ketidaktahuan akan sejarahnya sendiri.
Cak Yus kemudian bercerita sedikit tentang peristiwa yang dialami pada saat kerusuhan bulan mei 1998 bermula hingga akhirnya Soeharto memutuskan mundur dari jabatan Presiden saat itu. Menurut Cak Yus, ada banyak sekali peristiwa-peristiwa yang seharusnya diberitakan, namun tidak diberitakan oleh media massa. Apa yang terjadi pada media massa sejak Soeharto lengser hingga hari ini menurut Cak Yus tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah praktek kapitalis, yang hanya mengabarkan sebuah informasi yang diperlukan dan menguntungkan kapitalis.
Bagikan Berita Ini :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. Suara GMBI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger