Selamat datang di Suara GMBI Semarang

Hendi Cemaskan Tingginya Angka Kematian Ibu Melahirkan

Rabu, 25 Maret 20150 komentar

                                           Ilustrasi - ibu hamil diperiksa dokter 


TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus kematian ibu melahirkan di Kota Semarang yang relatif tinggi selama dua tahun terakhir ini menjadi sorotan dalam rapat kerja Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang 2015. Rapat tersebut diselenggarakan dua hari berturut-turut, mulai Rabu (25/3) kemarin, di Ruang Loka Krida kompleks Balai Kota Semarang.
Rapat itu mengusung tema "Optimalisasi Tim Gawat Darurat Rumah Sakit dalam Penurunan Ibu Maternal di Kota Semarang".
Saat membuka rapat, Rabu kemarin, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengaku cemas atas tingginya angka kematian ibu melahirkan di Semarang. Selain tinggi, angka kematian ibu itu juga kian meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, angka kematian ibu di Kota Semarang mencapai 29 jiwa dan menempati peringkat lima tertinggi se-Jateng. Tahun berikutnya, 2014, ranking di Jateng turun menjadi peringkat ketujuh, tapi angka kematian ibu melahirkan meningkat menjadi 33 orang.
"Namun bukan berarti bangga atas capaian tersebut karena hingga awal Maret 2015 sudah dua orang yang meninggal," ujar Hendi, demikian Hendrar Prihadi akrab disapa.
Hendi menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi bagi seluruh elemen masyarakat yang telah bekerja keras membantu Pemerintah dalam upaya pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas di Kota Semarang, termasuk kasus penurunan kasus kematian ibu maternal ini. “Namun upaya ini tetap terus dijaga karena upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan menjadi tanggung jawab kita bersama, temasuk ibu-ibu sendiri yang akan mengalaminya," tandasnya.
Dia mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi ibu yang sedang hamil meninggal dunia. "Faktor-faktor tersebut di antaranya si ibu sendiri yang kurang peduli terhadap kesehatannya bahkan sampai enam bulan ada yang tidak pernah periksa, hamil di usia muda," katanya.
Dia menambahkan, faktor penyakit bawaan seperti penyakit jantung dan faktor eksternal juga punya andil dalam kasus kematian ibu melahirkan. Faktor eksternal yang menjadi sorotan Hendi, antara lain birokrasi di RS yang berbelit-belit yang harus menggunakan jaminan uang untuk bisa ditangani lebih intensif.
Faktor-faktor tersebut bisa ditekan manakala semua rumah sakit memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan serta mengutamakan penanganan gawat atau kualitas rujukan darurat di setiap rumah sakit. "Saya berharap kepada sedulur-sedulur di RS, termasuk dokter dan juru medis, untuk bisa melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Panjenengan merupakan pintu pertama yang nantinya menjadi faktor keberhasilan dalam persalinan," harap Hendi.
Sementara itu, Kepala DKK Semarang, Widoyono meyampaikan, Pemkot Semarang dalam mengurangi angka kematian Ibu hamil yaitu penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) sesuai standar, penyediaan fasilitas pelayanan dasar yang mampu memberi pertolongan persalinan sesuai standar, penjaminan RS Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam - 7 hari/minggu berfungsi standar dan penguatan tata kelola desentralisasi program kesehatan. (ape)
Bagikan Berita Ini :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. Suara GMBI Semarang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Proudly powered by Blogger