SAYA percaya, ada di antara pembaca yang pernah menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah kelompok masyarakat bahu membahu mendirikan bangunan. Bisa rumah, jembatan, musholla, atau yang lainnya. Bagaimana rasanya? Sejuk, bukan? Saya yakin, tak ada yang tak senang melihat fenomena kerukunan antarwarga itu.
Tradisi gotong royong ini, di kalangan masyarakat Jawa, dikenal dengan tradisi Sambatan. Warga di pedesaan yang pada umumnya lebih mencirikan diri pada gemeinschaft (paguyuban), merupakan satu unsur pendukung budaya ini.
Tak ada upah mengupah dalam sambatan. Ikatan kekeluargaan-lah yang menjadi modal. Hanya dengan njawil tetangga kanan-kiri, pada hari dan jam yang ditentukan, mereka akan datang dengan rela hati. Kebanyakan kaum lelaki yang menjadi pelaku utama di sini. Sementara kaum ibu, membantu menyemangati lewat kudapan yang menggoda selera. Kehangatan begitu erat terjalin dalam sambatan.
Namun, perlahan, disadari atau tidak, kerelaan hati untuk memberikan tenaga ini berangsur mulai pudar. Memang tak di semua desa, tapi jelas, pudarnya tradisi Sambatan menjadi indikasi sebuah kemunduran. Roda globalisasi yang terus menggelinding lewat perangkat-perangkat modern-nya menjadikan gaya hidup konsumtif dan materialistis juga turut menyentuh masing-masing individu.
Kalau mau cermat, sekarang, untuk ikut sengkut mengerjakan sawah, warga sudah terikat dengan upah. Pergeseran sistem sambatan dalam pertanian tidak terlepas dari tuntutan hidup di era sekarang, sebab seperti kita sadari bersama, lapangan kerja makin sempit dan kebutuhan hidup semakin tinggi.
Warga masyarakat yang dulunya murni bergotong-royong menggarap sawah kini menjadikan sawah sebagai lapangan pekerjaan. Mereka yang ikut terjun untuk menggarap sawah pun pada akhirnya dipanggil “buruh tani”. Pudarlah kemudian apa yang disebut dengan Sambatan.
Padahal semestinya tradisi ini jangan sampai luntur. Seharusnya budaya yang turun temurun ini jangan sampai hilang. Kalau warga tetap memupuk sukarela tanpa pamrih membantu tetangga-tetangganya, ketika satu saat dia butuh bantuan, bukankah dia juga akan memperoleh perlakuan yang sama? Dan.. bukankah kerukunan menjadi satu panorama yang sedap dipandang?
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)
(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)





Posting Komentar